Berpindah haluan dari pekerjaan tetap menuju dunia wirausaha adalah langkah besar yang sering kali terdengar mulia dan penuh semangat. Namun, sebelum Anda benar-benar menyerahkan surat pengunduran diri dan mengejar mimpi menjadi bos untuk diri sendiri, pastikan bahwa keputusan ini lahir bukan dari dorongan emosional semata, melainkan dari pertimbangan yang matang dan strategi yang terukur. Jangan sampai idealisme mengaburkan realita yang menuntut persiapan, baik dari sisi finansial, mental, maupun perencanaan usaha. Dukungan finansial bisa Anda upayakan dengan investasi deposito yang aman dan cocok untuk rencana masa depan Anda.
3 Hal Penting Sebelum Memutuskan Resign dan Buka Usaha

Berwirausaha bisa menjadi lompatan besar dalam hidup seseorang. Namun, sebelum mengambil keputusan untuk berhenti dari pekerjaan, ada beberapa hal mendasar yang perlu Anda persiapkan secara serius agar perjalanan bisnis yang akan dijalani tidak berakhir di tengah jalan.
1. Kesiapan Dana
Salah satu hal terpenting sebelum memutuskan untuk resign adalah memiliki fondasi keuangan yang kuat. Ketika Anda sudah tidak menerima gaji tetap, maka arus kas bisa menjadi tantangan tersendiri—terutama di masa-masa awal usaha yang belum menghasilkan profit stabil.
Idealnya, Anda sudah memiliki dana darurat minimal 6–12 bulan dari pengeluaran rutin bulanan. Dana ini akan menjadi penyangga selama Anda membangun bisnis dari nol. Di samping itu, pastikan juga Anda sudah memisahkan antara dana pribadi dan dana usaha. Ini akan membantu Anda untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan serta menghindari campur aduk alokasi yang bisa berdampak buruk.
Tak kalah penting, pertimbangkan pula untuk menempatkan sebagian dana Anda pada instrumen likuid dan aman, seperti tabungan berjangka atau investasi jangka pendek. Dengan begitu, Anda tetap memiliki akses dana darurat tanpa harus menjual aset atau terjebak utang konsumtif.
2. Kesiapan Mental
Menjadi wirausahawan bukan hanya soal kebebasan menentukan arah kerja, tetapi juga kesiapan mental dalam menghadapi risiko, ketidakpastian, dan tanggung jawab yang jauh lebih besar. Saat Anda bekerja sebagai karyawan, masalah utama biasanya berkisar pada target dari atasan. Namun, ketika Anda menjadi pemilik usaha, setiap keputusan—baik kecil maupun besar—ada di tangan Anda dan berdampak langsung pada kelangsungan bisnis.
Kesiapan mental ini mencakup daya tahan terhadap stres, kegagalan, dan ketidakpastian. Wirausaha bukan jalan yang selalu naik; ada banyak ketidakpastian pasar, kompetitor, hingga penolakan pelanggan. Anda perlu membangun mental yang resilien, berpikiran terbuka, dan mampu belajar dari kesalahan.
Selain itu, berwirausaha juga membutuhkan disiplin diri yang tinggi. Tidak ada lagi jam kerja tetap atau pengawasan atasan. Andalah yang menentukan arah dan ritme kerja Anda sendiri.
3. Perencanaan Usaha yang Matang
Sebelum Anda resmi resign, pastikan Anda sudah memiliki perencanaan usaha yang benar-benar matang—bukan sekadar ide mentah atau angan-angan. Mulailah dengan menyusun business plan yang mencakup segmentasi pasar, strategi pemasaran, proyeksi keuangan, analisis SWOT, serta rencana pengembangan produk atau layanan.
Cobalah untuk melakukan validasi pasar terlebih dahulu, seperti survei calon konsumen, uji coba produk dalam skala kecil, atau bahkan menjalankan usaha secara sampingan saat masih bekerja. Hal ini akan memberikan gambaran lebih realistis tentang potensi bisnis Anda.
Sebagai tambahan, pikirkan juga strategi keuangan jangka pendek dan panjang. Di masa transisi dari karyawan menjadi pengusaha, Anda mungkin belum memiliki arus kas yang stabil. Menempatkan dana cadangan pada investasi deposito bisa menjadi solusi untuk mengamankan aset dengan risiko rendah, sambil tetap mendapatkan bunga yang kompetitif.
Membangun usaha sendiri memang bukan perkara mudah, namun bisa menjadi jalan menuju kemandirian finansial dan kepuasan hidup yang tidak tergantikan. Kuncinya adalah persiapan. Jangan terburu-buru resign hanya karena merasa lelah dengan pekerjaan saat ini—Anda dapat melakukannya ketika benar-benar sudah siap, baik dari segi mental, finansial, maupun strategi bisnis yang terencana. Dan jika Anda ingin menjaga dana cadangan usaha maupun kebutuhan pribadi tetap aman, membuka investasi deposito lewat Aplikasi digibank by DBS adalah langkah bijak yang layak dipertimbangkan.
Dengan Aplikasi digibank by DBS, Anda bisa memanfaatkan berbagai fitur yang mendukung kesiapan finansial secara menyeluruh. Anda akan mendapatkan akses terhadap diskusi-diskusi finansial terkini yang dikurasi secara selektif, termasuk insight dari sektor industri dan bisnis. Tidak hanya itu, Anda juga bisa mengikuti panduan finansial dari digibank advisor, mendapatkan notifikasi yang membantu pengambilan keputusan tepat waktu agar tidak kehilangan momentum, dan mengikuti kelas edukasi keuangan untuk memperkuat pemahaman Anda dalam mengelola keuangan.
Bagi Anda yang mencari instrumen penyimpanan dana yang aman namun tetap menguntungkan, deposito digital dari digibank by DBS menawarkan banyak keunggulan. Anda bisa memulainya dengan nominal yang sangat terjangkau—mulai dari hanya Rp1 juta. Suku bunga yang ditawarkan pun kompetitif, hingga 5% per tahun, membuat dana Anda tetap tumbuh meskipun sedang tidak diputar dalam bisnis. Seluruh proses pembukaan dan pengelolaan deposito dapat dilakukan secara digital, 24/7, melalui aplikasi yang user-friendly dan fleksibel. Tak perlu khawatir soal keamanan, karena dana Anda dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), memberikan perlindungan maksimal. Selain itu, tersedia berbagai pilihan tenor yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan rencana finansial Anda—mulai dari 1, 3, 6, 9, hingga 12 bulan.
Klik di sini untuk buka deposito sekarang juga melalui Aplikasi digibank by DBS. Pastikan langkah Anda menuju dunia usaha didukung oleh strategi finansial yang aman, fleksibel, dan menguntungkan.
